SUARA INDONESIA BANYUWANGI

Pemkab Banyuwangi Perkuat Kesiapsiagaan Warga Lewat Pelatihan Rutin Tanggap Bencana

Muhammad Nurul Yaqin - 09 December 2025 | 19:12
News Pemkab Banyuwangi Perkuat Kesiapsiagaan Warga Lewat Pelatihan Rutin Tanggap Bencana
Warga Desa Tamansari mengikuti simulasi tanggap bencana bersama Pemkab Banyuwangi. (Foto: Istimewa).

SUARA INDONESIA, BANYUWANGI – Pemkab Banyuwangi terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi berbagai risiko bencana, terutama di musim hujan dan cuaca ekstrem. Langkah ini dilakukan agar warga memahami tindakan awal yang harus dilakukan saat ancaman bencana muncul.

Sebagai wilayah dengan pegunungan luas dan garis pantai panjang, Banyuwangi termasuk daerah rawan bencana. Karena itu, pelatihan kebencanaan digelar secara berkala oleh BPBD, Tagana, Dinsos PPKB, serta Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan.

Salah satu pelatihan digelar melalui simulasi penanganan bencana Tagana Sapa Kampung (Tasmak) di Desa Tamansari, Kecamatan Licin, bertepatan dengan agenda Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa), Senin (8/12/2025).

Dalam simulasi tersebut, puluhan warga dari beragam unsur mulai ibu-ibu, anak-anak, perangkat desa, PKK hingga linmas terlibat langsung dalam latihan. Materi yang diberikan meliputi penanganan kebakaran, mitigasi angin kencang, gempa bumi, tanah longsor, hingga latihan membuat dapur umum.

“Simulasi seperti ini penting karena sebagian wilayah Banyuwangi memiliki kerentanan bencana. Bukan hanya bencana alam, tapi juga risiko lain seperti kebakaran,” ujar Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.

Menurut Ipuk, warga Tamansari yang berada di lereng Ijen perlu memiliki kemampuan dasar mitigasi. Dengan pengetahuan tersebut, warga diharapkan tetap tenang dan mampu mengambil langkah awal yang benar saat bencana terjadi.

“Tadi ibu-ibu juga sudah mencoba memadamkan api menggunakan kain basah. Latihan sederhana seperti ini sangat membantu ketika kondisi darurat terjadi,” tambah Ipuk.

Koordinator Tagana Banyuwangi, Dedy Utomo, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bentuk edukasi penanggulangan berbasis masyarakat. Menurutnya, warga adalah pihak pertama yang mengetahui situasi ketika bencana terjadi.

“Karena itu masyarakat harus mandiri dan siap menjadi garda terdepan sebelum bantuan kabupaten tiba. Kami ingin jeda waktu penanganan bisa dipersingkat,” ujar Dedy.

Sepanjang 2025, pelatihan serupa telah dilakukan di lebih dari 12 titik rawan bencana. Frekuensinya bisa mencapai sebulan sekali, bahkan lebih ketika bertepatan dengan gelaran Bunga Desa.

“Kami ingin masyarakat semakin terlatih dan tidak panik ketika berada dalam situasi darurat,” pungkasnya. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Muhammad Nurul Yaqin
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV