SUARA INDONESIA BANYUWANGI

Thrifting Banyuwangi Paling Ramai di Jatim, Perputaran Uang Tembus Ratusan Juta Tiap Hari

Muhammad Nurul Yaqin - 12 November 2025 | 16:11
Ekbis Thrifting Banyuwangi Paling Ramai di Jatim, Perputaran Uang Tembus Ratusan Juta Tiap Hari
Pengunjung memilih pakaian bekas di arena Bazar Thrifting GOR Tawangalun, Banyuwangi, yang ramai dikunjungi warga dari berbagai daerah. (Foto: Istimewa).

SUARA INDONESIA, BANYUWANGI – Fenomena pakaian bekas atau thrifting di Banyuwangi kian menggeliat. Kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini bahkan disebut menjadi pasar thrifting paling besar di Jawa Timur.

Setiap harinya, nilai transaksi dari jual beli pakaian bekas di wilayah ini bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Fakta itu disampaikan oleh Roni Febriansyah, anggota Paguyuban Thrifting Surabaya, saat menggelar Bazar Pakaian Bekas di GOR Tawangalun Banyuwangi. Kegiatan tersebut berlangsung pada 5–15 November 2025.

Menurut Roni, minat masyarakat Banyuwangi terhadap pakaian bekas luar negeri tergolong luar biasa. Antusiasme datang dari berbagai kalangan, mulai anak muda hingga orang tua.

“Dari delapan kota yang sudah kami kunjungi di Jawa Timur, Banyuwangi menjadi pasar paling besar dan paling ramai,” ungkap Roni, Selasa (11/11/2025).

Event thrifting di Banyuwangi bukan pertama kalinya digelar. Pada Juni 2025 lalu, kegiatan serupa sempat melibatkan sekitar 50 pelaku usaha pakaian bekas.

Dalam penyelenggaraan sebelumnya, omzet gabungan para pedagang bisa menembus Rp100–150 juta per hari. Melihat sambutan luar biasa itu, para pelaku usaha kembali menggelar event serupa di bulan November ini.

“Kali ini total ada 80 seller yang ikut, berasal dari berbagai kota di Pulau Jawa. Mereka terbagi dalam tiga kategori, yakni fashion, kuliner, dan aksesori,” jelas Roni.

Ia menambahkan, geliat thrifting di Banyuwangi turut memberikan efek ekonomi yang nyata. Banyak warga yang mendapat peluang kerja baru dari kegiatan ini.

“Tingginya peminat thrifting ini membantu perputaran ekonomi lokal. Banyak tenaga kerja terserap, terutama di sektor mikro,” tambahnya.

Meski pemerintah sempat berencana membatasi impor pakaian bekas, Roni berharap kebijakan itu tidak diterapkan secara kaku.

“Kami tidak menolak aturan. Kami siap diatur dan mau bayar pajak. Yang penting jangan sampai mematikan usaha rakyat,” tegasnya. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Muhammad Nurul Yaqin
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV