SUARA INDONESIA BANYUWANGI

Poliwangi Gandeng Peternak Bangsring Produksi Biofertilizer Berbasis IoT

Muhammad Nurul Yaqin - 09 September 2025 | 12:09
Pendidikan Poliwangi Gandeng Peternak Bangsring Produksi Biofertilizer Berbasis IoT
Tim Poliwangi lakukan sosialisasi dan praktik produksi biofertilizer berbasis IoT bersama kelompok ternak Desa Bangsring. (Foto: Muhammad Nurul Yaqin,suaraindonesia.coid).

SUARA INDONESIA, BANYUWANGI - Politeknik Negeri Banyuwangi melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) kembali melaksanakan program pemberdayaan masyarakat tahun 2025. Fokusnya mengatasi limbah pertanian dan peternakan melalui produksi biofertilizer berbasis kombinasi aktivator dan fermentasi IoT (Internet of Things) di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo.

Program ini dijalankan tim pengabdian lintas jurusan. Terdiri atas Aldy Bahaduri Indraloka, S.Si., M.P. (Dosen Jurusan Pertanian), Endi Sailul Haq, S.T., M.Kom (Dosen Jurusan Bisnis dan Informatika), serta Driyanto Wahyu Wicaksono, S.E., M.ST (Dosen Jurusan Pertanian).

Dalam kesempatan ini, tim juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Direktorat Jenderal Riset dan Pengabdian Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat tersebut.

Sosialisasi dan praktik produksi digelar di rumah penggerak kelompok ternak Desa Bangsring. Warga berhasil mengumpulkan 50 kilogram kotoran kambing, 50 kilogram kotoran sapi, 100 liter urin sapi dan 200 liter urin kambing.


“Limbah ternak tersebut dapat diolah menjadi empat jenis biofertilizer, yakni pupuk kohe kambing, bokashi, serta pupuk organik cair dari urin ternak,” ujar Ketua PKM, Aldy Bahaduri Indraloka, Selasa (9/9/2025).

Ia menerangkan, pupuk kohe kambing diproses dari kotoran kambing halus dengan sekam bakar dan kombinasi aktivator. Sedangkan bokashi dibuat dari kotoran sapi, serbuk gergaji, serta sekam bakar.

Untuk pupuk organik cair, bahan utamanya urin kambing dan sapi. Prosesnya memerlukan aktivator berupa MOL bonggol pisang, Trichoderma sp, serta tambahan EM4 untuk fermentasi.

“Kombinasi bioaktivator yang digunakan diharapkan mempercepat proses pengomposan sehingga hasil biofertilizer lebih cepat panen dan lebih berkualitas,” tutur Aldy.


Fermentasi biofertilizer membutuhkan waktu dua hingga tiga minggu. Pengaturan suhu menjadi kunci utama, sehingga tim mengembangkan sensor suhu fermentasi berbasis Internet of Things (IoT).

“Dengan sistem controlling suhu, tingkat keberhasilan pembuatan biofertilizer meningkat signifikan dan hasilnya lebih stabil,” jelas Endi Sailul Haq, anggota tim dari dosen jurusan Bisnis Informatika ini.

Selain melibatkan dosen, mahasiswa Poliwangi juga ikut aktif. Tujuannya untuk transfer ilmu, sekaligus menjadikan mahasiswa sebagai agen perubahan di tengah masyarakat.


Anggota tim lainnya, Driyanto Wahyu Wicaksono menmbahkan, program ini dilaksanakan terpadu, mulai sosialisasi, praktik, hingga evaluasi.

“Melalui inovasi biofertilizer berbasis IoT, warga Bangsring kami harapkan mencapai kemandirian pupuk dan memperkuat ketahanan pangan desa,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua kelompok ternak Desa Bangsring, Subhan, menyampaikan rasa syukurnya. “Kami berharap teknologi tepat guna ini membuat produksi pupuk mandiri dan masyarakat lebih produktif,” tuturnya. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Muhammad Nurul Yaqin
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV