SUARA INDONESIA BANYUWANGI

Buka Jendela Literasi, RLI Ajak Klub Motor Melanglang Buana ke Pelosok Bumi Blambangan

Muhammad Nurul Yaqin - 06 November 2023 | 12:11 - Dibaca 903 kali
Pendidikan Buka Jendela Literasi, RLI Ajak Klub Motor Melanglang Buana ke Pelosok Bumi Blambangan
Aktivitas relawan Rumah Literasi Indonesia (RLI) mengajak anak-anak di pelosok Banyuwangi untuk mencintai dunia literasi. (foto: Muhammad Nurul Yaqin)

Sejak tahun 2014, Tunggul Harwanto berjuang membumikan literasi. Mendirikan puluhan rumah baca serta menyalurkan puluhan ribu buku, Tunggul menggandeng komunitas motor untuk menjangkau berbagai pelosok Banyuwangi. Sebuah program yang didukung oleh Astra.

BANYUWANGI, Suaraindonesia.co.id - Gedung Rumah Literasi Indonesia (RLI) yang terletak di Dusun Gunung Remuk, Desa Kalipuro, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Banyuwangi ini tampak gagah. Memanjang dengan ruangan yang difungsikan sebagai sumber belajar eksploratif. 

‘Pantang Tanya Sebelum Baca’. Tulisan besar yang rangkaian hurufnya dari kayu ini terpampang di samping pintu gedung. Makna yang tersirat menggugah semangat membaca. 

Begitu memasuki rumah literasi, aura inspirasi langsung memancar. Suasana terasa tenang. Buku-buku anak-anak tersusun rapi di sejumlah rak. Merangsang imajinasi. 

Ada juga klinik literasi yang siap membantu anak-anak mengembangkan kemampuan membaca dan menulis. Di salah satu sudut, terdapat studio musik yang menawarkan peluang kreatif bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri melalui musik. 

Gedung ini menjadi tonggak perjalanan Tunggul Harwanto yang giat dalam perjuangan literasi sejak tahun 2014. 

“Berdirinya RLI ini berangkat dari keprihatinan melihat angka pernikahan dini dan angka perceraian tinggi, anak muda cenderung ke pergaulan negatif seperti narkoba dan miras. Saya ingin menggugah minat literasi sejak usia dini,” ujar Tunggal Harwanto. 

Selain itu, Tunggul prihatin, banyak anak-anak di pelosok yang belum mendapatkan akses pemerataan pendidikan terutama buku. Keprihatinan yang belakangan memunculkan gerakan 1000 Taman Baca dan Bookbuster. 

Semangat Literasi dari Alumni Jurusan Kedokteran Keluarga


Tunggul Harwanto, pendiri Rumah Literasi Indonesia (RLI) yang menginspirasi Indonesia dengan perjuangannya dalam dunia literasi.  (foto: Muhammad Nurul Yaqin/Suaraindonesia.co.id)

TUNGGUL Harwanto tak memiliki latar belakang pendidikan yang berkaitan dengan literasi atau pendidikan. Usai lulus dari SMA 1 Melaya, Jembrana, Bali, dia melanjutkan ke Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Banyuwangi. Tunggul mengambil S1 Jurusan Keperawatan. Setelah itu, dia melanjutkan pendidikan S2 Jurusan Kedokteran Keluarga di sebuah perguruan tinggi di Solo.

Tunggul sempat menekuni profesi sebagai dosen. Dia mengajar Jurusan Keperawatan (Ilmu Kesehatan Masyarakat) Universitas Bakti Indonesia di Banyuwangi. “Tapi saya mengajar hanya setahun, setelah itu mengembangkan dunia literasi di rumah,” ujarnya.

Awal mula ketertarikan Tunggul ke dunia literasi sama sekali tak terduga. Ikut dalam kelas inspirasi, dia menjadi relawan pengajar di pelosok Banyuwangi bagian selatan. “Waktu itu, saya menjadi relawan yang mengajar di rumah sakit di Banyuwangi selatan, saya juga diminta menjadi ketua kelas inspirasi,” katanya. 

Pada momentum itu, tak hanya menemukan inspirasi mengembangkan dunia literasi, Tunggul juga dipertemukan jodohnya, Nurul Hikmah. Wanita yang kemudian diperistrinya itu juga memiliki kecintaan besar pada dunia literasi. Dua energi bersatu. Mereka bersama-sama mengembangkan Rumah Literasi Indonesia. 

Banyak cita-cita yang tertancap. Mereka ingin membumikan literasi di bumi Blambangan. Hal yang membuat mereka berkeliling pelosok Banyuwangi.

Perjuangan Mendirikan 50 Rumah Baca di Pelosok




Ketika aktivitas literasi menjadi hal yang menyenangkan bagi anak-anak pelosok. RLI mendistribusikan 1000 - 5000 buku setiap tahunnya. (foto: Muhammad Nurul Yaqin/Suaraindonesia.co.id)

ANAK-anak di daerah pelosok cenderung minim suplai pengetahuan. Mereka kurang tersentuh literasi. Masih terpaku pada adat yang kolot. Tidak sedikit yang memutuskan menikah di usia dini, pada akhirnya berdampak pada kasus perceraian yang cukup tinggi. Belum bisa membaca hingga menulis menjadi masalah lain yang dialami anak-anak daerah pelosok. 

Seharusnya, jarak bukan halangan bagi setiap mereka yang ingin mendapatkan pengetahuan. “Saya percaya setiap orang memiliki kesempatan yang sama di dunia pendidikan. Semua orang mampu menjadi guru bagi sesama secara inklusif,” ungkap Tunggul.
Bukan sekadar percaya. Tunggul Harwanto juga berupaya. Dia menginisiasi program: gerakan 1000 Taman Baca. Bersama sang istri, Nurul Hikmah, Tunggul jemput bola ke pelosok Banyuwangi. 

Tunggul berkeliling membangun jaringan rumah baca di pelosok. Ternyata, banyak relawan di pelosok yang bersedia tempatnya digunakan. Pemilik rumah sekaligus sebagai pengelola rumah baca. Di tiap rumah baca juga ada relawan yang ikut mengajar anak-anak.

Namun, Tunggul kerap melihat pengelola rumah baca yang berjuang sendirian. Mereka dihadapkan pada lingkungan yang memiliki paradigma sempit tentang pendidikan. Sikap apatis dari warga sekitar. Minimnya dukungan moral dan materiil di lingkungan sekitar. Kendati demikian, pegiat literasi di desa ini cukup tangguh menghadapi tantangan itu.

”Kami merasa punya banyak teman seperjalanan yang bisa diajak berjuang untuk ikut menunaikan janji kemerdekaan yang paling dasar yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Saya meyakini, sekecil apapun kontribusi para penggerak literasi, pasti akan memberi warna pengalaman yang baru untuk anak-anak di pelosok desa," papar Tunggul.

Kegigihan itu berwujud nyata. Saat ini, Tunggul telah mendirikan 50 rumah baca. Jumlah itu akan terus bertambah. Hati Tunggul kian bahagia, ketika anak-anak di pelosok gemar membaca. Jendela informasi dunia kian terbuka bagi mereka.

Touring Penuh Makna Bersama Klub Motor

Komunitas Vespa ini merupakan salah satu klub motor yang terlibat dalam program Bookbuster, menyalurkan buku-buku ke pelosok. (foto: Muhammad Nurul Yaqin/Suaraindonesia.co.id)

BOOKBUSTER merupakan salah satu program RLI yang menarik perhatian. Dalam program ini, RLI memiliki misi pemerataan penyebaran buku di masyarakat. Buku-buku dibagikan ke taman baca dan pesantren. 

Namun, langkah awal yang diambil Tunggul pasti tidak mudah. Selalu ada rintangan yang dihadapi bahkan di awal pergerakannya, yang tak lain adalah anggaran terbatas. 

Tidak bisa dipungkiri, Tunggul mengaku membutuhkan bantuan dari pihak lain untuk mewujudkan taman baca tersebut. Baik itu berupa donasi atau pun lainnya menjadi penting saat merintis taman baca. 

"Saya sempat berpikir sejak tahun 2014 kami memulai program ini, awalnya mengantar sendiri. Karena saking banyaknya jaringan kami di pelosok, maka kami berpikir butuh biaya yang sangat besar untuk mendistribusikan ke pelosok itu," ujarnya. 

Hingga tercetuslah inovasi menggandeng komunitas motor untuk membantu pendistribusian buku di daerah pelosok. Mengingat klub motor di Banyuwangi cukup banyak dan aktif, tetapi tak jarang mereka bingung kegiatan sosial yang mampu mereka lakukan. 

Meski awalnya tidak mudah, Tunggul berhasil merangkul beberapa komunitas motor sebagai kurir buku untuk anak-anak yang tinggal di pelosok Banyuwangi. Sejak 2015, sekitar lima klub motor yang digandeng dengan total anggota berjumlah puluhan. Mereka diajak berkeliling menyuplai buku sembari touring

"Mau tidak punya duit, hujan, dan badai, mereka tetap berkumpul. Tapi kadang perlu program sosial. Hingga satu waktu yang merespon dari beberapa klub motor. Datang ke sini untuk kami ajak touring bagikan buku," ucapnya. 

Ketika bermanfaat bagi sesama dalam penyaluran buku, aktivis komunitas motor ini bisa memaknai touring-nya menjadi lebih bermakna. (foto: Muhammad Nurul Yaqin/Suaraindonesia.co.id) 

Perjalanan mereka menjadi aktivitas yang menyenangkan dan bermakna, mempererat ikatan antaranggota klub dan memberikan pengalaman sosial yang tak terlupakan. Mereka mendedikasikan diri untuk menginspirasi anak-anak dan meninggalkan jejak kemanusiaan yang positif di setiap rumah baca yang mereka kunjungi. 

Ali Akbar, anggota komunitas Matic Owner Club (MOC) mengaku, kegiatan literasi itu memberikan kepuasan batin bagi anggota klub motor. Aktivitas kemanusiaan itu memberikan harapan kepada anak-anak di pelosok Banyuwangi. Mereka akhirnya memahami makna penting literasi.

"Literasi itu penting untuk kemajuan bangsa kita. Karena nasib bangsa akan ditentukan oleh anak cucu kita. Jika mereka dibekali ilmu, maka kami percaya Indonesia akan menjadi negara yang terus maju. Di sini kami meneruskan semangat Ki Hajar Dewantara, sebagai pahlawan dalam mencerdaskan kehidupan bagi bangsa," tutur Ali.

Anak-anak di daerah terpencil telah diberi kesempatan yang berharga untuk belajar, meningkatkan literasi dan mengejar impian mereka berkat aksi Rumah Literasi Indonesia dan klub motor. Buku-buku yang membuka jendela menuju masa depan yang lebih cerah.

Astra jadi Energi untuk Keberlanjutan Program Bookbuster

Puluhan ribu buku tersalurkan sejak 2015. RLI mendapatkan dukungan dari Astra sehingga distribusi buku dan kegiatan literasi bisa semakin maksimal. (foto: Muhammad Nurul Yaqin/Suaraindonesia.co.id) 

TUNGGUL sadar Rumah Literasi Indonesia yang kian mengakar ke sendi-sendi kehidupan masyarakat, menjadi ujung tombak dalam mencerdaskan anak bangsa lewat buku, tidak akan kuat tanpa kolaborasi. Akar ini perlu dipupuk dan diberikan wadah, sehingga mampu menopang pohon dan ranting yang terus berkembang.

Tunggul berusaha mencari donatur yang bisa membantu keberlanjutan program literasi di yayasan yang ia bangun. Tak hanya Bookbuster tapi semua program yang ada. Seiring berjalannya waktu, usahanya membuahkan hasil. Dukungan mulai berdatangan, salah satunya yang diberikan oleh Astra. 

Ya, Astra merupakan perusahaan yang berfokus pada sektor industri termasuk otomotif, jasa keuangan, alat berat, pertambangan, konstruksi, energi, agribisnis, infrastruktur, logistik, teknologi informasi dan properti. 

Astra berkeinginan untuk berkontribusi dalam memperkuat ketahanan perekonomian Indonesia yang mendukung masyarakat yang inklusif dan sejahtera. Seperti pada sektor pendidikan yang menjadi salah satu atensi Astra. 

Bukti nyata di dunia pendidikan terus dilakukan Astra. Lewat program sosialnya, Astra memberikan apresiasi lewat program Satu Indonesia Awards dengan memberi Development Fund program Desa Literasi yang digagas Tunggul Harwanto sebesar Rp10 juta. Anggaran tersebut digunakan untuk donasi buku, termasuk pelatihan kepada anak-anak di pelosok desa terpencil.

"Sudah banyak buku yang kami distribusikan berkat dibantu berbagai donatur, Astra ada di dalamnya. Jika ditotal sampai sekarang ada puluhan ribu buku. Karena minimal setahun jika tidak ada dukungan dari perusahaan dan lain sebagainya, kurang lebih 1.000 sampai 5.000 buku," lanjut Tunggul. 

Dengan dukungan dari berbagai pihak, Tunggul berharap dunia pendidikan di Banyuwangi kian membaik. Terutama kemampuan literasi siswa masif meningkat. 

"Harapan kami, lewat taman baca yang ada ini tidak hanya berhenti di urusan membaca, tapi dia bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Ilmu-ilmu baru, temuan-temuan baru, sehingga masa depan generasi ini akan lebih baik," cetusnya.

Aksi Rumah Literasi Indonesia dan klub motor ini memberikan alat yang dapat mengubah hidup anak-anak dengan memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk tumbuh dan berkembang. 

Buku-buku ini tidak hanya berfungsi sebagai alat pembelajaran, tetapi juga sebagai sumber inspirasi bagi generasi muda. Mereka memberikan anak-anak kesempatan untuk bermimpi dan mewujudkan cita-citanya. (*)


» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Muhammad Nurul Yaqin
Editor : Danu Sukendro

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya