SUARA INDONESIA BANYUWANGI

Persewangi Tersingkir di 32 Besar, Pemerhati Sepak Bola Nilai Kekalahan Tanpa Perlawanan

Muhammad Nurul Yaqin - 10 January 2026 | 12:01
Olahraga Persewangi Tersingkir di 32 Besar, Pemerhati Sepak Bola Nilai Kekalahan Tanpa Perlawanan
Pemerhati sepak bola Banyuwangi, Hibbul Hadi. (Foto: Istimewa).

SUARA INDONESIA, BANYUWANGI – Langkah Persewangi Banyuwangi harus terhenti di babak 32 besar Liga 4 Jawa Timur musim ini. Kegagalan tersebut memicu kekecewaan dari kalangan pecinta sepak bola daerah.

Pemerhati sepak bola Banyuwangi, Hibbul Hadi, menilai kegagalan Persewangi kali ini terasa lebih menyakitkan dibanding musim-musim sebelumnya. Ia menyebut kekalahan tersebut bukan sekadar soal hasil, melainkan minimnya perlawanan di lapangan.

“Bukan kecewa karena kalah, itu hal biasa dalam sepak bola. Tapi kecewa karena kalah tanpa perlawanan yang pantas dikenang,” kata Hibbul Hadi, Sabtu (10/1/2026).

Menurutnya, tersingkirnya Persewangi di fase awal kompetisi menjadi pukulan berat, mengingat musim lalu tim kebanggaan Banyuwangi itu masih berstatus juara Jawa Timur dan kerap melangkah hingga fase nasional.

“Musim lalu juara Jawa Timur, sekarang berhenti di 32 besar. Perubahannya terasa sangat drastis,” ujarnya.

Hibbul menilai, secara komposisi, Persewangi musim ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan musim sebelumnya. Sejumlah pemain dengan latar belakang klub besar tetap direkrut, bahkan dari sisi finansial dinilai sudah lebih mapan.

“Secara start hampir sama, pemain juga tidak jauh beda. Tapi di lapangan, permainannya tidak menunjukkan kualitas yang sama,” katanya.

Ia juga menyoroti gaya bermain Persewangi yang dinilai terlalu mudah dibaca lawan. Menurutnya, bermain bersih memang penting, namun harus diimbangi dengan kesiapan taktik dan mental bertanding.

“Bermain jujur itu baik, tapi jangan sampai bermain lugu. Di kompetisi kita, yang bertahan bukan selalu yang paling suci, tapi yang paling siap,” ucapnya.

Sejak babak 64 besar, Hibbul menilai tanda-tanda penurunan performa sudah terlihat. Ia menyebut komposisi pemain yang diracik pelatih Francis Wawengkang belum mampu menghadirkan permainan yang solid dan meyakinkan.

“Dibanding musim lalu, perbedaannya terasa. Dulu lapar dan berani, sekarang terlihat ragu bahkan untuk menyerang,” katanya.

Ia juga menyinggung dampak performa pemain luar daerah yang dinilai turut menyeret pemain lokal ke dalam kritik publik.

“Yang paling berat justru ditanggung pemain lokal. Mereka menanggung beban moral di tanah sendiri, sementara pemain luar bisa pergi begitu saja,” ujarnya.

Hibbul menyebut, kegagalan ini seharusnya menjadi bahan evaluasi serius bagi manajemen Persewangi ke depan, termasuk dalam memberi ruang lebih besar bagi talenta lokal.

“Persewangi boleh gugur di 32 besar, tapi kekecewaan ini harus jadi bahan pembenahan. Sepak bola Banyuwangi terlalu besar untuk diperlakukan seadanya,” pungkasnya. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Muhammad Nurul Yaqin
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV