SUARA INDONESIA BANYUWANGI

Sumber Gedor Banyuwangi, Cagar Air Bersejarah dari Era Kolonial Belanda

Muhammad Nurul Yaqin - 17 May 2026 | 14:05
News Sumber Gedor Banyuwangi, Cagar Air Bersejarah dari Era Kolonial Belanda
Sumber Gedor Banyuwangi menjadi wisata edukasi mata air bersejarah peninggalan Belanda. (Foto: Istimewa).

SUARA INDONESIA, BANYUWANGI - Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mulai mengembangkan kawasan Sumber Gedor di Desa Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, sebagai destinasi wisata edukasi berbasis lingkungan dan sejarah.

Sumber mata air yang berada di kaki Gunung Ijen tersebut merupakan salah satu sumber air tertua di Banyuwangi dan hingga kini masih dimanfaatkan sebagai pemasok air bersih untuk masyarakat perkotaan melalui PUDAM Banyuwangi.

Direktur Utama PUDAM Banyuwangi, Abdurrahman, mengatakan sumber air tersebut telah dibangun sejak masa kolonial Belanda pada 1926 dan mulai beroperasi setahun kemudian.

Menurutnya, selain memiliki nilai sejarah, Sumber Gedor juga dikenal memiliki kualitas air yang baik dan kaya kandungan mineral.

“Airnya kaya akan mineral, sehingga menyehatkan bagi tubuh. Ini sudah dibuktikan dengan hasil uji lab dari Labkesda,” kata Abdurrahman.

Kawasan sumber air tersebut berada di tengah area hutan dengan vegetasi yang masih cukup terjaga. Beragam jenis pohon tumbuh di sekitar lokasi, mulai keluwek, jambu, hingga kemiri.

Untuk menjaga kualitas air, PUDAM menerapkan sistem pengelolaan tertutup agar kemurnian dan kejernihan air tetap terjaga sebelum dialirkan ke rumah warga.

Kini kawasan itu mulai dibuka sebagai wisata edukasi bagi pelajar dan masyarakat umum. Pengunjung dapat melihat langsung proses pengelolaan air dari sumber hingga distribusi ke pelanggan.

Selain itu, pengunjung juga diperkenalkan dengan pentingnya menjaga lingkungan dan kelestarian sumber mata air sebagai penopang kebutuhan air bersih masyarakat.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mendukung pengembangan kawasan tersebut sebagai sarana edukasi lingkungan bagi generasi muda.

“Sangat mendukung PUDAM untuk mengenalkan kawasan ini ke pelajar dan masyarakat. Ini juga semacam pesan kepada generasi muda bahwa sumber mata air harus dijaga dengan baik, dan lingkungan yang melingkupinya. Ini akan menjadi wisata edukasi alternatif, apalagi ini adalah bisa dibilang semacam cagar budaya,” kata Ipuk saat meninjau lokasi, Rabu lalu (13/5/2026).

Abdurrahman menambahkan, melalui wisata edukasi tersebut siswa juga dapat belajar mengenai proses distribusi air bersih sekaligus mengenal vegetasi yang tumbuh di sekitar kawasan sumber air.

"Di sini siswa bisa melihat bagaimana proses air dari alam ini disalurkan ke rumah-rumah warga, sehingga diharapkan tumbuh kesadaran menjaga lingkungan akan tumbuh sejak dini,” ujarnya. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Muhammad Nurul Yaqin
Editor : Bahrullah

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV