SUARA INDONESIA BANYUWANGI

Festival Perkusi Banyuwangi, Kolaborasi Energi Tradisi dan Sentuhan Modern yang Memikat

Muhammad Nurul Yaqin - 25 October 2025 | 18:10
Budaya Festival Perkusi Banyuwangi, Kolaborasi Energi Tradisi dan Sentuhan Modern yang Memikat
Penampilan grup perkusi mengguncang panggung Festival Musik Perkusi 2025 di Banyuwangi. (Foto: Muhammad Nurul Yaqin/suaraindonesia.co.id).

SUARA INDONESIA, BANYUWANGI – Kabupaten Banyuwangi kembali menambah deretan event kreatifnya lewat Festival Musik Perkusi yang digelar untuk pertama kalinya tahun ini.

Festival Musik Percussion ini dihelat di Terminal Pariwisata Terpadu, Jumat malam (24/10/2025) dan menjadi wadah pelestarian sekaligus inovasi terhadap musik tradisional Banyuwangi yang dikenal memiliki ritme cepat dan hentakan penuh energi.

Musik perkusi khas Banyuwangi menghadirkan semangat pesisir yang dinamis, berpadu kendang, jimbe, rebana, dan gong kecil yang mencipta harmoni unik.

Sebanyak empat grup perkusi tampil memeriahkan acara ini. Tiga di antaranya merupakan kelompok lokal berbakat yang digerakkan para seniman muda.

Damar Art, Munsing, dan Jiwa Etnik Banyuwangi menghadirkan kolaborasi musik etnik dengan sentuhan modern tanpa kehilangan identitas budaya Using.

Irama yang lekat dengan tradisi seperti gandrung dan hadrah kini dikemas lebih segar dan kekinian, tanpa meninggalkan akar budayanya.

Damar Art tampil bersama penyanyi Banyuwangi, Vita Alvia, membawakan lagu “Bunga Bangsa” yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya lokal.

Festival ini juga menghadirkan tamu spesial, Ethno Ensemble dari Solo, beranggotakan mahasiswa dan alumni ISI Surakarta jurusan etnomusikologi.

Mereka berkolaborasi dengan mahasiswa ISI Banyuwangi menampilkan eksplorasi ritme yang memadukan warna musik tradisi dengan genre modern yang eksperimental.

“Lewat festival ini, kami ingin membuka ruang kolaborasi agar musisi muda Banyuwangi dapat berinteraksi dengan seniman dari luar daerah dan memperluas pengalaman mereka,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.

Ipuk menegaskan, Banyuwangi terus menjaga tradisi dengan kemasan kreatif yang relevan untuk generasi muda agar budaya tetap hidup.

“Lewat festival perkusi ini Banyuwangi menegaskan diri sebagai daerah yang tidak hanya kaya budaya, namun juga kreatif dalam mengolahnya menjadi daya tarik wisata dan kebanggaan daerah,” ujarnya.

Ethno Ensemble menilai pengalaman tampil di Banyuwangi menjadi momen yang berkesan sekaligus membuka wawasan baru dalam bermusik lintas budaya.

Mereka memadukan ritme janger khas Banyuwangi dengan unsur musik rock dan kontemporer, menciptakan nuansa baru yang enerjik dan berani.

Koordinator Ethno Ensemble, Bondan, menilai Banyuwangi sangat pantas memiliki festival perkusi karena tradisi musik ritmisnya sangat kuat dan berpengaruh.

“Kami sangat bangga sekali tampil di Banyuwangi. Bicara tentang perkusi, yang paling menyita perhatian dunia dan Indonesia adalah Banyuwangi. 24 tahun kami berdiri, yang pertama kami pelajari adalah Kuntulan. Dan sampai sekarang belum bisa,” kata Bondan.

Tak hanya masyarakat lokal, wisatawan mancanegara pun ikut menikmati festival ini, termasuk Paul, turis asal Jerman yang hadir bersama dua rekannya.

“Malam ini saya menyaksikan atraksi seni di Banyuwangi. Musiknya sangat menarik, budaya yang luar biasa. Kami sangat menikmatinya. Saya akan merekomendasikan teman-teman saya untuk datang ke Banyuwangi,” tutur Paul. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Muhammad Nurul Yaqin
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV